Pages

Jumat, 26 Juli 2013

KONTROVERSI PUTRA MAHKOTA MATARAM TERDAMPAR DI SUMATERA

Desa atau Dusun tuo lubuk landai merupakan sebuah Dusun yang dahulunya memiliki jumlah penduduk yang cukup padat serta wilayah yang luas, maka sudah sepatutnya Dusun ini di mekarkan, maka dari proses pemekaran ini lahirlah beberapa Dusun diantaranya Dusun Sungai Lilin, Dusun Pematang Panjang, Dusun Pasar Lubuk Landai, Dusun Sungai Gambir dan Dusun Tebing Tinggi. Namun walaupun telah dimekarkan adat istiadat dan budaya dari beberapa Dusun ini masih sama tentunya karena masih dari satu keturunan yang nantinya akan diceritakan dalam tulisan dibawah.
Salah satu tradisi yang masih tetap dipertahankan oleh beberapa Dusun hasil pemekaran ini yaitu, pada tradisi Ziarah yang dilaksanakan pada setiap hari kedua Lebaran Idul Fitri maka akan dilakukan ziarah bersama dan untuk pembacaan tahlil akan dibagi dari setiap pegawai syara tiap Dusun.
Sejarah dibukanya Dusun Lubuk Landai
          Daerah Tanah Sepenggal dahulunya didatangi pendatang  yang berasal dari Mataram pulau Jawa. Pendatang ini dipimpin oleh seseorang yang bernama. Pangeran Mangkubumi lihatlah ( Sejarah Indonesia, pustaka Jakarta dewata halaman 125 ), kebenaran tentang penguasa masyarakat tanah leluhur dengan kampung halamannya. Menuju tanah seberang, ialah tanah Jambi berpisah dengan famili, saudara / kerabatku, menurut cita – cita. Kok kata orang tua – tua kehendak hati mati, kehendak mata buta, ya Allah bila aku mati di negeri orang, aku tidak sesal, bila aku dipanjangkan umurku pasti aku kembali kekampung halaman ku, aku mengembara di rantau orang, aku pergi ada lima syarat manfaat, begitu terkenang kampung yaitu :
A.    Menghilangkan kesedihan
B.    Menatapkan kehidupan anak pinak di daerah Jambi
C.    Menuntut ilmu dunia wal akhirat
D.    Mengagungkan jiwa dan dapat bergaul dengan orang besar dan ber’akhlak
E.    Berakhlak luhur
Menyusul pendatang baru 1749
Penyusul pendatang baru ini adalah Pakubuwono, beliau merupakan keponakan dari pangeran Mangkubumi yang sebelumnya sudah berada di tanah Jambi. Pakubuwono mendengar tutur dari ibunya mengenai pamannya Mangkubumi yang terang – terangan melawan penjajahan Belanda. Mendengar penuturan itu maka Pakubuwono berkeinginan menyusul pamannya di Tanah Jambi, maka Pakubwono berucaplah kepada ibunya memohon izin untuk menyusul pamannya dan menyampaikan kepada ibunya bahwa :
1.     Tulus ikhlas memihak dengan pamannya
2.     Sedia mengikuti jejak kepergian pamannya
3.     Mohon beri bantuan sebagai berikut :
-        Sebuah sampan layar serbaguna
-        Para pembantu berlayar yang berpengalaman dan dipercayai
-        Perbekalan / biaya secukupnya
-        Tuntunan pengarahan demi keselamatan
Dengan permohonan Pakubuwono sedemikian, bagi ibunya tidak menyanggah, hanya ibunya meminta bersabar menunggu untuk mempersiapkan hal tersebut. seminggu kemudian segala sesuatu telah disiapkan dan pada malam sebelum berangkat dibuatlah acara do’a bersama untuk keselamatan rombongan Pakubuwono dan agar Pakubuono dipertemukan dengan pamannya Pangeran Mangkubumi.
Pakubuwono dan rombongan berangkat
Dengan seorang adik perempuannya yang kecil beserta rombongan, selanjutnya mereka berangkat. Keberangkatan itu terjadi pada awal tahun 1749. Dari Surakarta menuju semarang selanjutnya bertolak dari Semarang melalui lautan Jawa dengan sampan layar serbaguna yang terukir rapi.
Dengan terus berlayar akhirnya rombongan Pakubuwono sampai di selat Berhala dan terus masuk ke Sungai Batanghari, sampan terus berjalan sampailah di Ujung Jabung ( Tanjung Jabung Timur sekarang ). Berhentilah mereka di situ dan bermalam, disitu mereka bertemu Paduka Orang Kayo Hitam, Pakubuwono bertanya kepada Orang Kayo Hitam apakah ada Jukung dan sampan dari Mataram yang lewat sini?. Kemudian Orang Kayo Hitam menyampaikan bahwa Jukung dari Mataram yang dibawa Pangeran Mangkubumi dahulu terdampar diseberang sana, dan sudah ditimbuni pasir selanjutnya rombongan itu berangkat ke hulu sungai dengan memakai 4 buah sampan baru yang dibeli di sini. Setelah itu yang saya ketahui ucap Orang Kayo Hitam antara lain
-        Rombongan Inggo Dilogo hulu balang Raja Mataram
-        Sampan rombongan Sri Tanwah
-        Sampan Rombongan Sko Berajo
-        Sampan Rombongan Rio Anoom
-        Yang paling terdahulu melewati ini yaitu rombongan Rio Kunci Rambah, dikala itu Buwono mungkin belum lahir.
Peristiwa dikampung gedang
Setelah dekat kampung gedang Seberang Jambi, Pakubuwono langsung melepaskan sepasang bebek, ternyata bebek tersebut lebih cepat dari perjalanan sampan rombongan Pakubuwono. Bebek tersebut menepi di Tanjung Pasir, dengan demikian rombonganpun ikut berhenti di Tanjung Pasir tersebut untuk istirahat bermalam. Dalam rangka itu adik kecil Pakubuwono menangis tidak mau bersampan lagi dan selalu berteriak memanggil ibu, sehingga susah rombongan membujuknya untuk diam. Setelah itu datanglah seorang ibu kesampan rombongan Pakubuwono ibu tersebut mengatakan kasihan pada anak kecil yang tidak mau berhenti menangis, ibu tersebut ingin membujuknya, Pakubuwono mempersilahkan ibu tersebut membujuk adiknya. Ternya usaha ibu tersebut berhasil dan adik Pakubuwono tersebut berhenti menangis. Ibu tersebut selanjutnya berpamitan dengan Pakubuwono untuk kembali kerumahnya karena ingin sholat maghrib namun adik Pakubuwono tidak mau ditinggalkan oleh ibu tersebut dan pada akhirnya Pakubuwono membolehkan ibu tersebut membawa adiknya kerumah ibu tersebut, Pakubuwono pun ikut kerumah ibu tersebut untuk menjaga adiknya.
Keesokan harinya Pakubuwono kembali membujuk adiknya dan bertujuan melanjutkan perjalanan ke hulu sungai, namun adiknya tetap tidak mau untuk ikut dan ibu tersebut kembali mengatakan ke Pakubuwono agar tidak memaksa adiknya untuk ikut, ibu bersedia menjaga adikmu seperti anak ibu sendiri dan Pakubuwono ibu anggap sebagai anak pertama ibu. Dengan demikian Pakubuwono mengucapkan terimakasih atas kebaikan dan keikhlasan ibu tersebut, Pakubuwono menitipkan adiknya kepada ibu tersebut dan Rombongan Pakubuwono kembali melanjutkan perjalanan.
Pada adik perempuan Pakubuwono tersebut, ada sesuatu yang diserahi oleh ibu mereka sewaktu di Surakarta, yaitu ”Caping Sang Sko”. Suatu benda yang sejak dahulu turun – temurun  dipakai oleh pihak perempuan.
Pakubuwono berjabat tangan dengan pamannya Pangeran Mangkubumi
Sampan rombongan Pakubuwono berangkat dari Kampung Tanjung Pasir memang berkeadaan penuh sesak oleh berbagai bibit tanaman dan makanan seperti pisang, nanas, tebu, jagung, ketimun, labu dan sebagainya. Namun hal itu tidak merintangi para rombongan untuk mendayung sampan tersebut, berhari – hari dan sampailah di Kampung Banjar Bugis. Disana Pakubuwono dan dua orang pembantunya langsung naik kekampung tersebut. tampaklah oleh mereka beberapa rumah namun hanya satu rumah yang terlihat ada penghuninya karena ada jemuran di dekat rumah tersebut sebuah celana dan potongan baju berwarna merah jambu berukuran besar, Pakubuwono dan dua orang pembantunyapun heran melihat ukuran pakian besar tersebut Pakubuwono mengira itu adalah pakaian pamanya Pangeran Mangkubumi. Kemudian Pakubuwono mengucapkan salam di depan rumah tersebut dan terdengarlah sambutan salam dari dalam rumuh tersebut, setelah berhadapan langsunglah berjabat tangan dan Pakubuwono memperkenalkan namanya serta menyebutkan kalai dia putera dari Pangeran Pakubuwono ke II Surakarta, pamannyapun termenung mendengar ucapan Pakubuwono. Kemudian Pangeran Mangkubumi meminta Pakubuwono menunjukkan bukti kalau mereka memang benar dari Mataram, sebagaimana para penyusul yang datang duluan, yaitu Rio Anoom. Namun Pakubuwono tidak dapat menunjukkan bukti karena bukti tersebut ada pada adiknya yang telah ditinggalkan di Tanjung Pasir.
Karena pamannya masih ragu, Pakubuwono kembali mengajak rombongan untuk melanjutkan perjalanan, setelah melewati Keluk Kucing Tidur tidak jauh dari tempat tersebut terlihatlah kepalak guntung lago, yaitu air terjun jatuh masuk kesungai jelas pula terlihat tebing bernapalan seolah – olah di beton, ( sekarang berada di tepian mandi Kampung Kapas ).
Pakubuwono berhenti di lokasi tanah pilih sesuai menurut tuntunan
Akhirnya Pakubuwona menyatakan cukup sampai disini kita bersampan, dan disini pula kita beristirahat bermalam. Pakubuwono meminta kepada rombongan untuk menebang dan membersihkan lahan tersebut selanjutnya ditanami bibi – bibit tanaman yang mereka bawa. Selanjutnya rombongan membuat pondok penjaga seperlunya untuk tempat tinggal dan menghindari dari serangan musuh seperti binatang buas.
Selanjutnya pangeran Mangkubumi mengetahui rombongan Pakubuwono telah berada ditempat tersebut, datanglah Pangeran Mangkubumi ketempat tersebut lalu pangeran Mangkubumi memarahi Rombongan Pakubuwono karena telah menebas pepohonan yang merupakan kebun kapas milik Pangeran Mangkubumi, pohon kapas tersebut sudah diganti dengan tanaman yang dibawa oleh rombongan Pakubuwono. Pangeran Mangkubumi mengusir rombongan Pakubuwono dari tempat tersebut namun rombongan Pakubuwono tidak mau, akhirnya Pangeran Mangkubumi kembali kerumahnya di Kampung Banjar Bugis.
Selanjutnya Pangeran Mangkubumi kembali mengutuskan orang berkali – kali untuk menyampaikan kepada Pakubuwono agar meninggalkan tempat tersebut sampai 7 kali Pangeran Mangkubumi mengutuskan orang namun Pakubuwono tetap pada pendiriannya, pada saat itu telah berdiri 11 buah rumah.
Akhirnya pada awal tahun 1754 Pangeran Mangkubumi mendirikan Balai Panjang Tanah Sepenggal pada lokasi Keluk Kucing Tidur, berlokasi di seberang pulau Sri Bulan di baruh Desa Tanah Periuk sekarang. Begitu selesai langsung diresmikan dan PangeranMangkubumi langsung dinobatkan sebagai Sri Raja Tanah Sepenggal terhitung mulai awal tahun 1754.
Selanjutnya langsung mengadakan sidang pertama yaitu masalah padang kapas Pangeran Mangkubumi yang ditebang oleh Pakubuwono, sidang dipimpin oleh tuo Negeri Kampung Gedang Tanjung Pasir yang telah dinobatkan jadi Raja Pulau Dusun Manggis bernama Wan Oemar. Hasil sidang tersebut mempersoalkan tindakan Rombongan pendatang baru yang dipimpin Pakubuwono, sehingga dikenakan ”yang delapan penuh serta denda” menurut ketentuan adat yang berlaku. Selanjutnya langsung dikantap kepada kedua belah pihak yaitu, Pangeran Mangkubumi dan Pakubuwono selaku ketua rombongan. Putusan tersebut diterima oleh kedua belah pihak namun Pakubuwono meminta beberapa hal antara lain :
1.     Mohon beri tangguh pembayaran
2.     Mohon mohon beri izin untuk kembali ke Mataram demi kepentingan tersebut
Dengan demikian ketua sidang kembali bermusyawarah dengan Pangeran Mangkubumi mengenai permohonan Pakubuwono, setelah bermusyawarah akhirnya Pangeran Mangkubumi mempersilahkan Pakubuwono untuk kembali ke Mataram.
Pakubuwono kembali ke Mataram
Pakubuwono bersama 3 orang pembantunya berangkat menuju Mataram dengan sampan layar serbaguna, sampai di Mataram langsunglah Pakubuwono menuju rumah ibunya, ternyata saat itu ibunya sedang sakit dan Pakubuwono langsung sujud memohon maaf kepada ibunya. Pakubuwono menyampaikan maksud dan tujuannya kembali ke Mataram yaitu :
Ø  Untuk mengambil sesuatu demi keperluan untuk kenduri peresmian Negeri dan pemakaian 11 rumah yang dibangunnya di lokoasi Tanah Pilih.
Ø  Mengundang kesenian bende Mataram beberapa orang saja karena dibatasi sampan yang dibawanya dari Tanah Pilih hanya 1 buah.
Mendengar penyampaian Pakubuwono ibunya menyetujui permintaan Pakubuwono, sore harinya Pakubuwono pergi kerumah ketua kesenian Bende Mataram. Pakubuwono disambut baik bahkan dismbut dengan iringan kesenian bende Mataram tersebut, setelah itu Pakubuwono menyampaikan maksunya untuk mengundang beberapa orang pemain kesenian Bende Mataram untuk ikut dengannya ke lokasi Tanah Pilih dikarenakan Pakubuwono akan meresmikan Negeri dan pemakaian 11 buah rumah. Ketua kesenian menganggap perlu semua tim dari kesenian tersebut ikut dengan Pakubuwono, namun Pakubuwona kembali menyampaikan kalau perahu yang mereka bawa tidak cukup untuk semua tim kesenian tersebut dan akhirnya ketua kesenian mengusulkan untuk membawa perahu milik tim kesenian, Pakubuwono pun sangat senang dengan usulan ketua kesenian tersebut. akhirnya Pakubuwono bersama rombongan seni berangkat menuju tanah seberang tanah pilih.
Didalam perjalanan sesampai di sungai mancur pada malam hari rombongan memainkan kesenian Sende Mataram sambil terus menerus bernyanyi dan berperahu, terdengarlah Pangeran Mangkubumi dan terbangun dari tidurnya suara nyanyian dan pukulan gung dengan merdunya, terahir terdengar 3 kali letusan meriam Pangeran Mangkubumi tahu kalau Pakubuwono sudah kembali.
Pertemuan Pangeran Mangkubumi dengan ketua kesenian
Pada pagi hari setelah kedatangan Pakubuwono Pangeran Mangkubumi berkunjung ke tanah pilih dan bertemu ketua kesenian yang merupakan paman Pakubuwono juga yaitu adik dari ibu Pakubuwono, dengan demikian mantaplah perbincangan antara kedua paman Pakubuwono tersebut. Dalam pertemuan singkat ini Pangeran Mangkubumi bertanya kepa Ketua kesenian apakah maksud yang disampaikan Pakubuwono kepada ketua kesenian sehingga mengundang kesenian sende Mataram, ketua kesenian menjawab bahwa Pakubuwono bermaksud merismikan negeri dan pemakaian 11 rumah.
Akhirnya kedua paman Pakubuwono ini bersepakat untuk menjodohkan Pakubuwono dengan Sri Ratu Daya Rani yang juga merupakan anak dari ketua kesenian yang berarti saudara sepupu Pakubuwono, kemudian Pakubuwono dilengkapi dengan Pakubuwono ke III karena dia adalah Putera pertama Sri Sultan Pakubuwono II. Perjodohan bermaksud sesuai dengan istilah ”jadi masih serumpun kepah yang tinggi / sepucuk jalo panjang” mudah – mudahan suatu saat mempunyai keturunan yang soleh dan solehah dalam meneruskan perjuangan.
Membayar hutang dan denda
Untuk menepati janji yang telah disanggupi Pakubuwono bersama 2 orang pengiringnya berangkat menuju balai panjang menemui Pangeran Mangkubumi yakni Desa Tanah Periuk sekarang. Akhirnya dapat bertemu langsung dengan Pangeran Mangkubumi dihadapan Wan Oemar ketua sidang dan datuk Rio Anoom abdi masyarakat Tanah Sepenggal, setelah hutang dan denda di bayar, Pakubuwono menyampaikan niatnya untuk melakukan peresmian Desa dan rumah yang dibangunnya di lokasi tanah pilih Lebak Landai.
Pangeran Mangkubumi langsung membantah jika Cuma dua unsur tersebut yang diresmikan maka belum wajar, maksu dari Pangeran Mangkubumi ialah ingin menikahkan Pakubuwono dengan Sri Ratu Daya Rani sesuai perundingan Pangeran Mangkubumi dengan ketua kesenian yang juga paman dari Pakubuwono, dan Pakubuwono pun mengikuti apa yang diinginkan oleh kedua pamannya tersebut.
Kenduri diadakan selama tiga hari tiga malam terhitung mulai tanggal 11 – 13 Maret 1754 dengan mengundang beberapa tamu seperti :
Ø  Pemuka masyarakat Bilangan V /VII
Ø  Pemuka masyarakat Jujuhan
Ø  Pemuka masyarakat VII Koto
Ø  Pemuka masyarakat Bati II
Ø  Pemuka masyarakat Batin III Ilir
Ø  Pemuka masyarakat Batin III
Ø  Pemuka masyarakat Batin VII
Ø  Pemuka masyarakat Teluk Rendah
Ø  Pemuka masyarakat Kampung Gedang Tanjung Pasir
Ø  Pemuka Masyarakat Tahtul Yaman
Ø  Kesenian melayu
Ø  Anak negeri nan VIII dalam Tanah Sepanggal
Pada tanggal 11 Maret 1754 sukses melakukan peresmian tiga serangkai yaitu :
1.     Peresmian negeri yang diberi nama Lebak Landai selanjutnya berubah menjadi Lubuk Landai.
2.     Peresmian pemakaian 10 buah rumah adat Balembago dan 1 buah rumah gedang.
3.     Pernikahan Pakubuwono III dengan Sri Ratu Daya Rani.
Selama tinggal di Lubuk Landai Pakubuwono dan Dayang Rani mendapat 5 orang anak, 1 orang laki-laki dan 4 orang perempuan.
1)    Kali Urai
2)    Meh Mato
3)    Meh Baik
4)    Meh Urai
5)    Rajo Nita, beliau meninggal waktu kecil umur 6 tahun
Pakubuwono wafat di Lubuk Landai Dimakamkan di Kampung Betung Dusun Lubuk Landai. Itulah cerita singkat yang penulis saudara Akhmad Ramadhan dapatkan dari orang-orang tuo dan catatan yang ditulis oleh nenek Yahya H. Ali dan nenek Husin Dja’afar, memang masih banyak kekurangan – kekurangan dalam penulisan ini, penulis berharap kedepan akan ada penelitian yang lebih mendalam terhadap Pakubuwono dan Sejarah Dusun Lubuk Landai ini.

0 komentar:

Posting Komentar