Pages

Selasa, 27 Agustus 2013

NABI DAUD AS

NABI DAUD AS.

Allah SWT menurunkan Zabur padanya untuk membimbing orang Israil. Zabur berisi petunjuk-petunjuk dasar yang sama dengan yang terdapat dalam Taurat.
 
Nabi Daud adalah anak bungsu dari tiga belas bersaudara. Ayahnya bernama Yisya. Ia adalah generasi ke-13 dari keturunan Nabi Ibrahim. Ia berasal dari keluarga Bani Israil. Mereka bermukim di Betlehem, yang kemudian menjadi kota kelahiran Nabi Isa a.s. Ketika mulai dewasa, Daud dan dua kakaknya ikut berperang melawan pasukan Jalut dari Filistin (Palestina) yang menjajah Bani Israil. Karena berhasil mengalahkan Jalut, Daud dinikahkan oleh Raja Talut dengan Mikyal, putrinya. Mikyal sangat setia kepada Daud. Raja Talut, yang sebelumnya berniat membunuh Daud, akhirnya meninggalkan mahkota kerajaannya. Daud dinobatkan menjadi raja Bani Israil ketika masih berusia di bawah 30 tahun. Ia kemudian menjadikan Baitulmakdis (Yerusalem) ibukota kerajaannya. Ketika berusia 40 tahun, Daud menerima risalah kenabian. Allah Swt. memberinya kitab Zabur (QS.[4]:163; [17]:55) dan beberapa mu'jizat. Nabi Daud a.s. memerintah Bani Israil selama sekitar 40 tahun dan dianugerahi usia 100 tahun 6 bulan.
Ilustrasi yang menggambarkan Daud melawat Jalut
Allah SWT menurunkan Zabur padanya untuk membimbing orang Israil. Zabur berisi petunjuk-petunjuk dasar yang sama dengan yang terdapat dalam Taurat. Oleh karena itu kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud AS merupakan penyempurnakan petunjuk Allah SWT yang dibawa oleh Nabi Musa AS. Zabur berbentuk lagu-lagu. Allah SWT tidak hanya menganugerahkan keNabian kepada Daud AS, tetapi juga dinasti yang teramat besar yang tersebar di Syria, Irak, Palestina, Jordan Timur dan sekitarnya. Ia adalah seorang pembicara yang fasih dan pidatonya sangat menarik, efektif, dan mudah dimengerti. Ia selalu memimpin untuk mengambil keputusan yang tepat bahkan pada urusan-urusan yang rumit. Allah SWT berfirman dalam Shad 20.
Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.
Allah SWT menganugerahkan banyak mukjijat kepada Nabi Daud AS. Ia selalu membiasakan dirinya dalam banyak berzikir dan memuji Allah SWT. Ia memiliki suara yang begitu berirama sehingga orang-orang, burung-burung, binatang lainnya, jin-jin, dan bahkan gunung-gunungpun turut bergoyang dan menyanyi bersamanya. Ini disebutkan di dalam tiga ayat yang berbeda dalam Al Qur’an. Shad 18, 19
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi, dan burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat ta'at kepada Allah.
Dan dalam Saba 10
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami.: "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya,
Juga dalam Al Anbiya 79
maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum; dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.
Mungkin anda tercengang membaca bahwa gunung-gunung bernyanyi bersama Nabi Daud AS. Jangan lupa bahwa Allah SWT telah mencipta alam semesta, dan kepadaNyalah semua unsur-unsur alam semesta ini patuh dan memuji kepada Allah SWT serta membesarkan nama Penciptanya, di dalam bahasa yang kita tidak sanggup mengetahuinya. Allah SWT berfirman di dalam Al Isra 44
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
Adalah mukjizat Nabi Daud AS sehingga binatang-binatang, burung-burung, jin-jin dan bahkan gunung-gunung mengikutinya dalam bertasbih kepada Allah SWT. Juga telah diketahui umum bahwa batu-batu kecil biasanya bersyahadat bila ada Nabi Muhammad SAW, dan batu-batu kecil ini semua bertasbih kepada Allah SWT. Binatang-binatang juga biasa berbicara dengan Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga biasa bersandar di batang pohon tua bila sedang berdakwah kepada para Sahabatnya. Kemudian sebuah podium dibuat untuk Nabi Muhammad SAW untuk digunakan ketika beliau berdakwah. Sahabat-Sahabat Nabi Muhammad SAW mendengar suara tangisan dari pohon tua yang ditinggalkan oleh Nabi yang mulia. Nabi Muhammad SAW menyentuh pohon itu dengan tangannya untuk menghibur. Kemudian pohon itu berhenti menangis. Sebuah pilar didirikan di tempat pohon ini di dalam Masjid Nabi Muhammad SAW di Madinah Munawarah. Pilar itu disebut Ustan Hannan.
Sheikh Jalalud Din Sayuti mengatakan di dalam Khasaes Al Kubra bahwa walaupun batu-batu kecil bertasbih kepada Allah SWT sepanjang waktu, tetapi kejadian ketika para Sahabat Rasul bisa turut mendengar puji-pujian ini sewaktu batu-batu ini berada di dalam genggaman Nabi Muhammad SAW adalah mukjizat baginya semata.
Abdullah bin Masoud RA meriwayatkan bahwa, “Kami biasa makan bersama Nabi Muhammad SAW, dan kami biasa mendengar dengan telinga kami puji-pujian kepada Allah SWT dari makanan yang dihidangkan itu.” (Bukhari)
Jabar bin Samra RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku bisa mengenal batu-batu yang biasa mengucapkan salam kepadaku, bahkan ketika aku belum menjadi Rasul. Bahkan sekarangpun aku bisa mengenalinya.” (Muslim)
Abu Saeed Khudhri RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Manusia, jin, pohon-pohon, dan batu-batuan semua mendengar suara Azan dan mereka akan menjadi saksi bagi para Muazin ini pada hari Pembalasan nanti.” (Ibn Majah).
Oleh karena itu semua mahluk termasuk gunung-gunung selalu bertasbih kepada Allah SWT. Mukjizat sebetulnya bagi Nabi Daud AS adalah bahwa puji-pujian kepada Allah SWT yang dilakukan oleh gunung-gunung itu bisa didengar oleh telinga-telinga manusia.
Walaupun Nabi Daud AS adalah seorang kaisar yang besar, tetapi dia tidak ingin menggunakan satu senpun dari uang negara untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan dirinya. Dia biasa melakukan bermacam-macam pekerjaan dengan tangannya untuk mencari nafkah seperti orang awam lainnya. Ia biasa berdoa kepada Allah SWT agar meringankan pekerjaannya supaya selama hidupnya tidak pernah ia harus tergantung pada uang negara.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Berapapun besar penghasilan seseorang bila didapatkan dengan tangannya sendiri, adalah penghasilan yang terbaik. Sesungguhnya, Nabi Daud AS biasa mencari nafkah dengan tangannya sendiri.” (Bukhari)
Hafiz Ibnu Hajr berkata, “Walaupun Kalifah Islam diijinkan untuk mengambil jumlah yang pantas dari uang negara untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, tetapi lebih baik bila ia mencari alternatif lain, yaitu hidup dari penghasilannya sendiri”. Sebagai contoh Kalifah Abu Bakar RA sebelum meninggal telah mengembalikan ke kas negara seluruh dana yang dipinjamnya dalam bentuk gaji selama kekhalifahannya.
Allah SWT mengabulkan doa Nabi Daud AS untuk memudahkan kehidupan sehari-harinya karena ia juga telah memenuhi kewajiban untuk mengatur kekaisaran yang teramat luas. Allah SWT telah membuat besi menjadi lunak di tangannya. Saba 10
dan Kami telah melunakkan besi untuknya,
Juga di dalam Al Anbiya 80
Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur.
Ini adalah mukjizat lainnya dari Nabi Daud AS.
Syed Mahmood Alose meriwayatkan dari Qurtabi dalam Ruhul Maani bahwa Allah SWT mengajarkan Nabi Daud AS untuk membuat pakaian besi untuk perang yang tidak terasa berat bagi para prajurit itu. Sehingga gerakan prajurit-prajurit di medan perang tidak terganggu dengan menggunakan pakian besi yang ringan ini. Sebelumnya tidak ada seorangpun yang mampu membuat pakaian perang yang seringan itu.
Penting diperhatikan bahwa kita tidak boleh memandang rendah orang-orang yang bekerja dengan tangannya sendiri di pabrik-pabrik. Orang-orang yang tidak mengerti sering mengejek para ahli besi dan tukang/pengrajin lainnya. Kita seyogyanya menghormati orang-orang ini karena mereka mengikuti jejak dari Nabi Daud AS.
Allah SWT mengkaruniakan banyak kebaikan yang unik kepada Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS. Dengan segala karunia dari Allah SWT ini, menjadi bertambah besarlah rasa syukur mereka kepadaNya. Allah SWT mengingatkan mereka tentang kewajiban untuk bersyukur ini di dalam Saba 13
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti kolam dan periuk yang tetap . Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur . Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa di dalam rumah Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS, seluruh anggota keluarga setuju bahwa paling kurang salah seorang dari keluarga selalu membiasakan diri untuk banyak-banyak berzikir kepada Allah SWT sepanjang malam dan siang hari.
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Allah SWT sangat menyukai shalat Nabi Daud AS. Nabi Daud AS biasa tidur pada pertengahan pertama dari malam, kemudian ia shalat sepertiga malam, dan tidur lagi pada seperenam malam sisanya. Allah SWT juga paling menyukai puasa Nabi Daud AS. Nabi Daud AS biasa berpuasa setiap dua hari sekali, puasa yang paling berat. (Bukhari dan Muslim)
Tirmidzi dan Imam Abu Bakar Jassas meriwayatkan dari Atta-bin-Yasar, bahwa ketika ayat 13 dari surat Saba diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ia naik ke mimbar dan setelah membacakan ayat ini bersabda, “Bila seseorang melakukan tiga perkara, pahalanya akan sama dengan Nabi Daud AS”. Para Sahabat bertanya, “Perkara apakah itu?” Nabi Muhammad menjawab, “Berlaku adil dalam kemarahan atau ketenangan; mengambil jalan tengah baik dimasa sulit maupun sejahtera, dan bertakwa kepada Allah SWT baik terang-terangan maupun diam-diam”. (Qurtabi, Ahkam-Ul-Qur’an)
Ketika bertambah banyak pemberian Allah SWT dikaruniakan kepada Nabi Daud AS, Allah SWT mengingatkan keluarga Nabi untuk membiasakan diri banyak-banyak mengucapkan syukur kepada Allah SWT.
Diriwayatkan oleh Fadheel RA bahwa ketika peringatan untuk bersyukur ini diturunkan kepada Nabi Daud AS, dia menjawab, “Ya Allah, bagaimana aku bisa memenuhi perintahMu ini karena mengucapkan syukur itu sendiri adalah satu karuniaMu yang patut disyukuri sendiri. Allah SWT berfirman, “Hai Daud, sekarang engkau telah bersyukur kepadaKu dengan sepenuhnya karena sekarang kamu sudah mengetahui dan menyadari keterbatasanmu.”
Semoga Allah SWT memberi kita ke-tawadhu-an Nabi Daud Alaihissalam. Amin.
BUKTI PENINGGALAN NABI DAUD
Baju dari besi dan perlengkapan perang abad ke-10 SM berhasil ditemukan sejumlah peneliti.
Pada jamannya, Nabi Daud AS telah membuat baju perang dari lempengan besi. Gambar ini adalah contoh baju besi peninggalan tahun 1000 SM.
Nabi Daud Alaihissalam (AS) adalah seorang utusan Allah yang mempunyai kelebihan dibandingkan Rasul lainnya. Kelebihan Daud AS diantaranya bisa berbicara dan paham bahasa hewan, burung dan gunung tunduk pada kehendak Daud (atas izin Allah) dan mereka bertasbih bersama Daud (QS Saba[34] ayat 10).
Selain kemampuan dan kelebihan tersebut, Nabi Daud juga diberikan anugerah oleh Allah berupa kemampuan untuk menundukan besi. (QS Saba[34]: 10-11, Al-Anbiyaa’[21]: 80).
Besi-besi yang keras itu mampu dilunakkan Nabi Daud untuk membuat berbagai alat kebutuhan hidup serta dijadikan perisai (pakaian perang). Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan sesuatu yang ada di bumi dan alam semesta ini sia-sia, baik yang besar maupun kecil. (QS Ali Imran[3]: 191).
Dalam surah Al-Baqarah[2] ayat 26, Allah ‘menyindir’ orang yang selalu mengira bahwa tidak ada manfaatnya Allah menciptakan sesuatu yang kecil.
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walau mereka bersatu menciptakannya….”  (QS Al-Hajj[22]: 73)
Ayat-ayat di atas menunjukan bahwa tidak sesuatu pun yang diciptakan Allah itu sia-sia. Semuanya ada manfaatnya. Dari berbagai perumpamaan yang Allah ciptakan itu, justru dapat diketahui apakah manusia itu termasuk orang yang bersyukur atau ingkar terhadap nikmat dan ciptaan Allah SWT.
Demikian pula ketika Allah menciptakan besi. Didalamnya terdapat manfaat yang sangat besar bagi umat manusia. “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al-Hadid[57]: 25).
Selain dapat digunakan sebagai perisai, besi juga dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah, gedung bertingkat, kendaraan transportasi, barang hiasan, dan lain sebagainya.
Penemuan Besi
Sebagaimana diterangkan dalam AlQuran, Nabi Daud AS adalah seorang nabi yang mempunyai kerajaan. Namun, sebelum Allah menganugerahi sebuah kerajaan padanya, Nabi Daud harus berjuang terlebih dahulu bersama dengan Thalut untuk melawan Jalut, serta berperang melawan pasukan dari negeri lainnya.
Dalam beberapa peperangan itulah Nabi Daud AS diperintahkan untuk memanfaatkan besi sebagai alat untuk berperang, seperti pedang, pisau, tombak, panah, maupun baju perang.
“Dan Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi intuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (QS Al-Anbiyaa’[21]:80).
Dalam surah Saba’[34] ayat 11, Daud diperintahkan membuat baju perang yang terbuat dari besi.
Secara tegas, ayat tersebut diatas memberikan contoh cara membuat baju perang dari besi. Kapankah peristiwa itu terjadi, dan seperti apa baju besi yang dibuat oleh Nabi Daud tersebut?
Dalam buku Sami Abdullah al-Maghluts disebutkan, Nabi Daud AS diperkirakan hidup pada tahun 1041-971 SM. Dalam masa itulah Nabi Daud pernah membuat baju dari besi.
Para ahli tafsir, seperti Al-Qurthubi mengungkapkan, kata Labus dalam surah Al-Anbiya ayat 80 dan Saba’ ayat 10-11, bermakna baju-baju besi karena dipakai untuk membentengi atau melindungi diri dari serangan musuh-musuh. Alba’su dalam kalimat tersebut bermakna peperangan setelah dibuang mudlaf: Aalatu ba’sikum.
Pengolah Besi Pertama
Dalam menafsirkan ayat 10-11 surah Saba’[34] ini, Ibnu Katsir mengutip pendapatnya Hasan Bashri mengatakan, anugrah yang diberikan Allah kepada Nabi Daud salah satunya kemampuan yang luar biasa dalam menipiskan atau memipihkan dan membakarnya untuk menempa besi tersebut. “Daud tidak perlu membakar besi terlebih dulu untuk memipihkannya dengan palu, namun cukup dengan lipatan-lipatan tangannya sebagaimana yang dilakukan para tukang jahit. Karena itu, Allah berfirman, “Buatlah baju besi yang besar-besar.”
Alat perang tahun 1000 SM.
Kemampuan yang dimiliki Nabi Daud dalam melunakkan besi ini berbeda dengan yang dimiliki Dzulqarnain pada abad ke-6 SM (545 SM) – lihat (QS al-Kahfi[18]: 96)
Lebih lanjut Ibnu Katsir menyatakan, Daud merupakan orang yang pertama kali dalam membuat baju besi. Sebelum itu, hanya berupa lempengan tameng, “Dan ukurlah anyamannya,” yakni jangan terlalu melunakkan penyambungan antarlempeng karena akan membuat longgar dan berisik, serta jangan pula terlampau mengencangkan anyamannya karena bisa merekat. Namun, buatlah sesuai dengan ukuran tertentu.
Sami al-Maghluts mengatakan, pada awalnya manusia menggunakan batu yang ditempa untuk melakukan perburuan atau peperangan, baik untuk membuat pedang, panah, atau pisau. Sementara itu, pada masa Nabi Daud AS, lanjut Sami, manusia bisa membuat baju-baju besi yakni berupa lembaran-lembaran, jadi Daud merupakan manusia pertama yang memperkenalkan dan menjalinkan besi menjadi sebuah bentuk baju besi sebagaimana disebutkan dalam surah Saba’[34] ayat 10-11 tersebut.
Situs Pertambangan Nabi Sulaiman?
Sebagaimana diterangkan dalam AlQuran, Nabi Sulaiman Alaihissalam (AS), mewarisi sikap dan akhlak Nabi Daud AS, baik dalam hal kerajaan, kemampuannya dalam bercakap dengan binatang, menaklukkan gunung, menguasai jin, dan lain sebagainya (QS An-Naml[27]:16). Demikian juga dengan besi atau baja.
Baru-baru ini, pada tanggal 28 Oktober 2008 lalu, nationalgeographic.com memberitakan, sekelompok penambang di Yordania bagian selatan menemukan sebuah lokasi penambangan yang diduga berasal dari jaman Nabi Sulaiman AS. Tidak dijelaskan secara resmi lokasi penemuan galian bekas tambang tersebut.
Penggalian yang dilakukan sekelompok penambang di Yordania yang diduga merupakan bekas lokasi tambang di jaman Sulaiman.
        
Berbagai jenis barang tambang (emas, perak, tembaga, besi, perunggu, dan lain sebagainya) yang dulu digunakan Sulaiman untuk membangun Haikal Sulaiman (solomon temple) di Jerusalem. Emas, perak dan perunggu dipergunakan untuk memperindah interior kuil.
Sejauh ini, para arkeologi belum menemukan persisnya areal pertambangan di jaman Sulaiman. Beberapa areal tambang yang ditemukan di kawasan Timur Tengah setelah diteliti masih lebih muda usianya dari masa hidup Sulaiman (diperkirakan hidup sekitar abad ke-10 SM / 989-931 SM.). penemuan areal bekas tambang di Yordania ini memberi angin segar kepada para arkeolog dalam meneliti peradaban dan kejayaan Nabi Sulaiman.
Temuan itu semakin diperkuat dengan tes uji karbon terhadap areal tambang tembaga di Yordania itu. Hasil tes menunjukan usia yang sama dengan masa Nabi Sulaiman, kawasan ini berada di perbukitan, di lokasi ini ditemukan bekas-bekas penggalian dan reruntuhan bangunan yang diduga menjadi bagian dari industri pertambangan kuno. Kawasan itu sebenarnya pernah diteliti tahun 1970 tetapi hasil penelitian menunjukan areal tersebut berusia sekitar abad ke-7 SM, sekitar 300 tahun setelah Nabi Sulaiman.
Sebelumnya ada laporan dari nationalgeographic.com pada 27 Oktober 2007, kabarnya sejumlah pekerja muslim menemukan kuil Sulaiman. Di lokasi tersebut para pekerja menemukan berbagai jenis barang keramik, tembikar, yang diduga merupakan peninggalan Sulaiman setelah kehancuran Haikal Sulaiman. Kuil itu terletak di sebelah Masjid Al-Aqsha. Kendati tidak utuh, kuil Sulaiman itu diyakini masih ada berupa tembok ratapan (wailing wall) yang bersebelahan dengan Masjid Kubah Batu (Dome Of the Rock).
Sentra Pengolahan Besi
Damaskus, ibu kota Suriah (Syria) dikenal sebagai salah satu kota pengolahan besi yang sangat hebat. Kualitasnya telah diakui berbagai kalangan. Bahkan pada masa awal keislaman, besi-besi Damaskus dijadikan sebagai alat utama pembuatan senjata seperti pedang, pisau, tombak dan anak panah.
Pada abad 7-8 Masehi, ketika Dinasti Umayyah berkuasa, Damaskus menjadi pusat pembuatan pedang yang terkenal di dunia islam. Begitu pula pada abad ke-9 hingga 12 M. ketika Damaskus dalam kekuasaan Ayyubiyah, kota ini menjadi pusat pembuatan pedang yang sangat kesohor. Selain kuat dan tajam, pedang buatan Damaskus juga sangat berkualitas dengan teksturnya yang indah dan menarik.
Ketika Perang Salib, tentara musuh islam terperangah melawan pasukan muslim, sebab disamping memiliki kuda-kuda yang handal, pedang-pedang tentara islam mampu menembus baju besi musuh dengan sekali tebas. Saat Perang Salib itulah peradaban barat mulai mencari rahasia teknologi tempa baja yang dikuasai dunia islam. Tentara Perang Salib menyebut baja yang hebat dari Damaskus itu dengan sebutan Damascus Steel. Teknologi pengolahan besi dan baja Damaskus mampu menempa dan mengeraskan wootz steel menjadi indah dan lentur.
Seni membuat pedang di era kejayaan islam mendapat perhatian khusus dari peradaban barat. Robert Hoyland dan Brian Gilmore menulis buku bertajuk “Medieval Islamic Swords and Swordmaking.” Buku setebal 216 halaman itu mengupas risalah yang ditulis ulama muslim terkemuka pada abad ke-9 M, Ya’kub Ibnu Ishaq Al-Kindi, tentang ‘Pedang dan Ragam Jenisnya’
Al-Kindi menulis secara lengkap tentang teknologi pembuatan pedang. Ia juga mengklasifikasikan beragam jenis besi dan baja untuk membuat pedang. Menurutnya, pedang itu terbuat dari dua jenis besi, yakni alami (yang ditambang) dan tak alami (buatan). Besi alami terbagi menjadi dua, Shaburqan (besi laki - yang sangat keras yang diolah dalam keadaan panas), serta Narmahin (besi perempuan – adalah besi yang lembek yang tidak dapat diolah dalam kondisi panas).
Pada era kejayaan islam, pedang-pedang yang dibuat pandai besi di dunia islam, besi dan bajanya berasal dari Khurasan, Basrah, Damaskus, Mesir dan Kufah. juga ada yang di import dari Sarandib (kini wilayah Srilangka).
Ilmuwan muslim lainnya yang menguasai teknologi pembuatan pedang adalah Abu Al-Raihan Al-Biruni (973 M – 1048 M). secara khusus ia menulis kitab berjudul, Al-Jamahir fi ma’rifat al-Jawahir. Dalam karyanya itu, Al-Biruni menggambarkan proses karbonisasi besi tempa dan pembuatan baja dari besi tuang.
Prof. Ahmad Al-Hassan dalam tulisannya yang berjudul, The Origin of Damascus Steel in Arabic Sources, mengungkapkan, hampir semua pedang di dunia islam terbuat dari besi Damaskus, dan salah satu cirinya dihiasi dengan pola hias (firind). Menurut Al-Khindi, firind dapat ditemukan dalam semua jenis besi buatan. Sedangkan pedang yang terbuat dari besi alami tak memiliki pola hias atau firind.

0 komentar:

Posting Komentar