Pages

Selasa, 10 Juni 2014

MILIARDER ORANG BIASA DULU


Banyak miliarder memperoleh kekayaannya tanpa bermodal warisan. Para miliarder ini membangun kekayaannya dari nol dengan berbekal pengalaman hidup miskin.

Berikut beberapa miliarder yang harus merangkak keluar dari kemiskinan hingga menjadi orang tajir.
1. Jan Koum
Jan Koum berusia 16 tahun ketika ia dan ibunya bermigrasi dari Ukraina ke AS. Mereka berdua bertahan hidup di AS dari bantuan pemerintah. Ketika menginjak remaja, Koum belajar jaringan komputer secara otodidak.

Setelah dewasa, Koum menjadi salah satu pendiri aplikasi pesan Whatsapp, yang kemudian dibeli Facebook pada tahun ini seharga 19 miliar dollar AS. Uniknya, ia menandatangani dokumen perjanjian dengan Facebook di kantor pelayanan yang sama ketika ia memperoleh stempel makanan.

2. Howard Schultz
CEO Starbucks ini tumbuh di pemukiman di Brooklyn, New York bersama orang tua dan saudara kandungnya. Ibu Schultz yang tak lulus SMA mendorong anak-anaknya untuk meyakini mereka dapat meraih kesuksesan. Ayah Schultz yang berprofesi sebagai sopir truk mendorong kecintaan sang putra akan olahraga.

Setelah memperoleh beasiswa olahraga ke Northern Michigan University, Schultz menjadi orang pertama di keluarganya yang menjadi mahasiswa. "Ternyata saya tidak terlalu bagus menjadi pemain football dan akhirnya saya tidak bermain," tulis Schultz dalam bukunya "Pour Your Heart Into It: How Starbucks Built a Company One Cup at a Time."

Untuk membayar uang kuliah, ia mengambil pinjaman, menjadi bartender, dan kadang menjual darahnya. Ia akhirnya bekerja di Starbucks sebagai direktur pemasaran pada era 1980an dan karirnya terus merangkak. Di bawah kepemimpinannya, jaringan kedai kopi kecil di Seattle berkembang menjadi perusahaan gerai kopi terbesar dunia, dengan 5.500 gerai di 50 kota dan akan terus bertambah.

3. Oprah Winfrey
Wanita pegusaha media ini dikenal di seluruh dunia. Akan tetapi, siapa siangka presenter program "The Oprah Winfrey Show" ini memiliki masa lalu yang kelam? Oprah dilahirkan tahun 1954 dan dibesarkan hanya oleh ibunya di pedesaan Mississippi, AS. Masa kecil dan remajanya suram.

Ia mengalami pelecehan seksual dan hamil pada usia 14 tahun. Bayinya lahir prematur dan tidak dapat bertahan hidup. Kecerdasan dan kemampuan komunikasi Oprah telah terlihat sejak kecil. Ia menjadi penyiar radio saat remaja. Pada usia 32 tahun, ia memiliki program televisi sendiri. Ia memandu "The Oprah Winfrey Show" selama 25 tahun. Kemudian ia menjadi CEO jaringan Oprah Winfrey Network yang melayani sekitar 80 juta rumah.

4. Chan Laiwa
Meskipun merupakan keturunan dinasti Manchu, keluarga Chan Laiwa sangat miskin. Pada tahun 1940an ia terpaksa putus sekolah dan bekerja. Chan pun memulai bisnis perbaikan furnitur.

Selama beberapa dekade bisnisnya semakin berkembang. Ketika usianya menginjak 40-an, ia pindah ke Hong Kong untuk berinvestasi di real estate. Ia memulai hanya dengan 12 properti yang kemudian semakin bertambah. Saat ini Chan merupakan direktur Fu Wah International, sebuah perusahaan yang bergerak di sektor real estate, pariwisata, elektronik, dan industri lainnya.  Menurut Chan, kemiskinan merupakan pendidikan terbaik yang pernah dimilikinya.

5. Zhang Xin
Zhang Xin adalah pemimpin SOHO China, salah satu pengembang real estate paling sukses di Tiongkok. Akan tetapi semasa kecil, Zhang hidup dalam kemiskinan. Saat menginjak remaja, Zhang bekerja di pabrik pabrik mainan dan elektronik di Hong Kong dengan bayaran kecil. Ia menabung selama 5 tahun untuk tiket pesawat ke London dan biaya kursus bahasa Inggris.

Saat di Inggris, ia kuliah di Cambridge University dan bekerja di Goldman Sachs, New York. Dalam sebuah wawancara, Zhang pernah mengatakan, "Satu hal tentang Tiongkok adalah semua orang berasal dari bukan apa-apa."

Beberapa kisah orang-orang terkaya dunia tersebut menunjukkan kemiskinan dapat dientas dengan kerja keras dan optimisme. Mereka telah menunjukkan keberhasilan mereka keluar dari kemiskinan berkat kesempatan, kerja keras, optimisme, dan keahlian.

0 komentar:

Posting Komentar