Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 31 Juli 2013

ADAT TANAH TORAJA

Menyeramkan, Tradisi Ma’nene Masyarakat Toraja Mayat ini akan berjalan sendiri ke makamnya setelah diberi mantera-mantera.
Di Tanah Toraja ada sebuah ritual atau kebiasaan dalam prosesi pemakaman. Cukup unik. Dan, mungkin menyeramkan. Mayat yang telah disemayamkan bertahun-tahun di sebuah tebing tinggi dan kuburan batu, tiba-tiba jasadnya bangkit. Mayat itu kemudian berjalan mencari rumahnya. Setiba di rumah, dia akan tidur lagi. Cerita mayat berjalan ini sudah dikenal masyarakat Toraja sejak jaman leluhur. Hingga kini ritual tersebut masih ada dan bisa dilihat dengan mata telanjang.
Kabut tipis menyelimuti pegunungan Balla, Kecamatan Baruppu, Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Pertengahan Agustus silam, merupakan hari yang mendebarkan. Selain kampung Baruppu diterjang kabut hebat ditambah dinginnya angin pagi, hari itu juga menjadi kesibukan warga Baruppu.
Di tengah balai-balai rumah, mereka menggelar sebuah ritual. Mereka menyebutnya: Ma’nene. Sebuah ritual untuk mengenang leluhur, saudara dan handai taulan yang sudah meninggal. Dari sinilah misteri budaya Tanah Toraja terkuak.
Seorang wanita tua terlihat dikelilingi warga. Semua orang memandang serius. Siapa wanita itu? Entahlah. Dilihat dari belakang, dia usianya kira-kira 60-70 tahun. Sangat tua. Rambutnya tergerai dengan lebat. Rambutnya sudah ditumbuhi uban. Dia sama sekali tidak bergerak. Kedua tangannya disilangkan ke depan. Wanita tua itu mengenakan pakaian kegemarannya: warna biru.
Seluruh kulitnya terlihat kusut. Ada warna putih kecoklat-coklatan. Kelihatannya dulu dia pernah mengalami kebakaran sehingga kulitnya menjadi begitu. Yang aneh, meski dikelilingi puluhan orang, wanita itu tetap tak bergeming. Mematung. Tidak menoleh atau berbicara.
Setelah didekati, alamak, ternyata dia adalah sesosok mayat. Ma’nene, begitu kata orang Toraja. Apa itu? Itu adalah mayat yang telah diawetkan. Bagi masyarakat Toraja, kematian adalah sesuatu yang disakralkan. Bagi mereka, kematian harus dihormati. Mereka yang mati biasanya diletakkan di dalam gua. Selama bertahun-tahun didiamkan di sana.
Nah, mayat tadi, adalah mayat seorang ibu sekaligus nenek yang telah meninggal selama bertahun-tahun. Tapi anehnya, mayat tersebut masih utuh. Apakah dia dibalsem? Tidak. Kisah tentang mayat utuh ini sudah ada sejak tahun 1905.
Mayat-mayat utuh tersebut pertama ditemukan di sebuah gua di Desa Sillanang. Saat ditemukan mayat tersebut tidak busuk, pun sampai sekarang. Uniknya, mayat untuh itu tidak dibalsem maupun diberi ramuan. Alami.
Menurut Tampubolon, (45), anak ketua adat setempat, kemungkinan ada semacam zat di gua itu yang khasiatnya bisa mengawetkan mayat manusia. “Kalau saja ada ahli geologi dan kimia yang mau membuang waktu menyelidiki tempat itu, sepertinya teka teki gua Sillanang dapat dipecahkan,” kata Tampubolon.
Awal Mula Tradisi Ma’nene
Mayat berjalan pulang sendiri ke rumah. Tapi sebelumnya harus dihonotis dulu.
Mayat berjalan pulang sendiri ke rumah. Tapi sebelumnya harus dihonotis dulu.
Kisah Ma`nene bermula dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, ratusan tahun lampau. Ketika itu, dirinya berburu hingga masuk kawasan hutan pegunungan Balla.
Dikisahkan di tengah perburuan, Pong Rumasek, warga Toraja, menemukan jasad seseorang yang meninggal dunia. Jasad itu tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat. Kondisinya mengenaskan.
Tubuhnya tinggal tulang belulang. Hati Pong Rumasek tergugah. Ia ingi merawatnya. Jasad itu dibungkus dengan baju yang dipakainya. Setelah dirasa aman, Pong Rumasek kemudian melanjutkan perburuannya.
Sejak kejadian itu, setiap kali Pong mengincar binatang buruan, dia selalu mudah mendapatkannya, termasuk buah-buahan di hutan. Kejadian aneh kembali terulang ketika Pong Rumasek pulang ke rumah. Tanaman pertanian yang ditinggalkan, tiba-tiba panen lebih cepat dari waktunya. Bahkan, hasilnya berlimpah.
Sejak itu, setiap kali berburu ke hutan, Pong selalu menemui arwah orang mati yang pernah dirawatnya. Bahkan, arwah tersebut sering diajak berburu menggiring binatang.
Pong Rumasek pun berkesimpulan bahwa jasad orang yang meninggal dunia harus tetap dimuliakan, meski itu hanya tinggal tulang belulangnya. Maka dari itu, setiap tahun sekali sehabis panen besar di bulan Agustus, setiap penduduk Baruppu selalu mengadakan Ma`nene, upacara pemakaman untuk menghormati leluhur, tak lain mendiang Pong Rumasek.
Bagi masyarakat Baruppu, ritual Ma`nene juga dimaknai sebagai perekat kekerabatan di antara mereka. Bahkan Ma`nene menjadi aturan adat yang tak tertulis yang selalu dipatuhi setiap warga.
Ketika salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma`nene. Mereka menganggap sebelum melaksanakan ritual Ma`nene, status mereka masih dianggap pasangan suami istri yang sah.
Tapi, jika sudah melakukan Ma`nene, maka pasangan yang masih hidup dianggap sudah bujangan dan berhak untuk kawin lagi.
Ritual Ma`nene sendiri dilakukan setiap tahun sekali. Ini merupakan satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa.
Penduduk Desa Baruppu percaya jika ketentuan adat yang diwariskan dilanggar maka akan datang musibah yang melanda seisi desa. Misalnya, gagal panen atau salah satu keluarga akan menderita sakit berkepanjangan.
Dalam bahasa Bugis, Toraja diartikan sebagai orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan. Namun, masyarakat Toraja sendiri lebih menyukai dirinya disebut sebagai orang Maraya atau orang keturunan bangsawan yang bernama Sawerigading.
Berbeda dengan orang Toraja pada umumnya, masyarakat Baruppu lebih mengenal asal usulnya dari Ta`dung Langit atau yang datang dari awan.
Lama kelamaan Ta`dung Langit yang menyamar sebagai pemburu ini menetap di kawasan hutan Baruppu dan kawin dengan Dewi Kesuburan Bumi. Karena itu, sering terlihat ketika orang Toraja meninggal dunia, mayatnya selalu dikuburkan di liang batu.
Tradisi tersebut erat kaitannya dengan konsep hidup masyarakat Toraja bahwa leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi. Maka, tak semestinya orang yang meninggal dunia, jasadnya dikuburkan dalam tanah. Bagi mereka hal itu akan merusak kesucian bumi yang berakibat pada kesuburan bumi.
Seperti yang dilakukan keluarga besar Tumonglo. Bagi keluarga Tumonglo, ritual Ma`nene adalah sakral dan wajib dilakukan. Sejak pagi, keluarga ini sudah disibukkan serangkaian kegiatan ritual yang diawali dengan memotong kerbau dan babi. Bagi keluarga Tumonglo maupun sebagian besar masyarakat Toraja lainnya pesta adalah bagian yang tak terpisahkan setiap kali menghormati orang yang akan menuju nirwana. Meski mereka sudah banyak yang menganut agama-agama samawi, adat dan tradisi yang diwariskan para leluhurnya ini tak mudah ditinggalkan.
Kini, tiba saatnya keluarga Tumonglo menjalani ritual inti dari Ma`nene. Di bawah kuburan tebing batu Tunuan keluarga ini berkumpul menunggu peti jenazah nenek Biu–leluhur keluarga Tumonglo yang meninggal dunia setahun lalu–diturunkan.
Tak jauh dari tebing, kaum lelaki saling bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil melantunkan Ma`badong. Sebuah gerak dan lagu yang melambangkan ratapan kesedihan mengenang jasa mendiang yang telah wafat sekaligus memberi semangat pada keluarga almarhum.
Bersamaan dengan itu, peti jenazah pun mulai diturunkan dari lubang batu secara perlahan-lahan. Peti kusam itu berisi jasad nenek Biu. Keluarga Tumonglo mempercayai bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Sejatinya kematian bukanlah akhir dari segala risalah kehidupan. Karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap keluarga untuk mengenang dan merawat jasad leluhurnya meski sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Dalam ritual ini, jasad orang mati dikeluarkan kembali dari tempatnya. Kemudian, mayat tersebut dibungkus ulang dengan lembaran kain baru oleh masing-masing anak cucunya.
Di desa Bu`buk, suasananya tak jauh beda dengan desa lainnya di Kecamatan Baruppu. Di tempat ini keluarga besar Johanes Kiding juga akan melakukan Ma`nene terhadap leluhurnya Ne`kiding. Sebelum ke kuburan, masyarakat dan handai taulan berkumpul di pelataran desa di bawah deretan rumah tradisional khas Toraja, Tongkonan.
Namun, kuburan yang dituju bukan liang batu seperti umumnya, melainkan Patane, semacam kuburan batu atau rumah kecil yang digunakan untuk menyimpan jasad para leluhur mereka.
Acara dilanjutkan dengan membuka dua peti yang berisi jasad leluhur. Mayat yang sudah meninggal setahun yang lalu itu dibungkus ulang dengan kain baru. Perlakuan itu diyakini atas rasa hormat mereka pada leluhur semasa hidup. Mereka yakin arwah leluhur masih ada untuk memberi kebaikan.
Dalam setiap Ma`nene, jasad orang yang meninggal pantang diletakkan di dasar tanah. Karena itu, para sanak keluarga selalu menjaganya dengan memangku jasad leluhurnya. Tak ayal, tangis kepiluan kembali merebak. Mereka meratapi leluhurnya sambil menyebut-nyebut namanya. Jasad yang sudah dibungkus kain baru pun dimasukkan kembali ke dalam rumah patane. Kini, keluarga Johanes pun telah selesai melaksanakan amanah leluhur.
Menyuruh Mayat Berjalan
Mayat yang disimpan di kuburan batu.
Mayat yang disimpan di kuburan batu.
Mayat-mayat yang dimakamkan di kuburan tebing atau kuburan batu (patane)–setelah bertahun-tahun berlalu–kemudian diangkat dan dikeluarkan. Di situ para kerabat keluarga akan menangis. Tapi ada tradisi kuno yang dilakukan warga Toraja, selain    mengeluarkan mayat, mereka juga membangkitkan mayat. Lebih unik lagi, mayat tersebut bisa disuruh berjalan pulang ke rumah. Hii…ngeri.
Yah, inilah fakta yang terjadi di Tanah Toraja. Dan, mungkin hanya ada di tempat ini. Jika selama ini mayat berjalan hanya bisa ditonton di film-film yang tidak nyata, maka tradisi mayat berjalan di Tanah Toraja benar-benar ada di depan mata dan sangat nyata.
Cerita mengenai mayat berjalan banyak versinya. Versi yang pertama menyebutkan, dulu, ratusan tahun sebelumnya pernah terjadi perang saudara di Tanah Toraja. Perang itu melibatkan orang-orang Toraja Barat dan Toraja Timur.
Dalam peperangan tersebut, Toraja Barat kalah telak. Sebagian besar tewas. Tetapi pada saat akan pulang kampung, seluruh mayat Toraja Barat bangkit dari kematin. Dan, berjalan. Sedang orang Toraja Timur, walaupun hanya sedikit yang tewas, mereka tetap menggotong mayat saudara mereka yang mati. Perang itu dianggap seri.
Sementara versi kedua menurut Tampubolon, mayat berjalan kaku dan agak tersentak-sentak itu sebenarnya sudah mengakar dari kehidupan masa lalu. Dulu, orang-orang Toraja biasa menjelajah daerah-daerah yang bergunung-gunung. Di sana banyak ceruk. Dan kemana-mana mereka hanya dengan berjalan kaki.
“Dari zaman purba sampai sekarang tetap begitu. Mereka tidak mengenal pedati, delman, gerobak atau semacamnya. Dalam perjalanan itu, banyak dari mereka yang jatuh sakit dan mati,” cerita Tampubolon.
Nah, supaya mayat tidak sampai ditinggal di daerah yang tidak dikenal (orang Toraja sangat menghormati roh orang mati), maka dengan satu ilmu gaib (semacam hipnotis), mayat-mayat itu kemudian dapat berjalan pulang. Cara demikian dilakukan supaya mayat tidak menyusahkan manusia lain. Sebab akan sangat tidak mungkin menggotong terus-menerus jenazah sepanjang perjalanan yang makan waktu berhari-hari. Mayat berjalan itu baru berhenti bila ia sudah meletakkan badannya didalam rumahnya sendiri.
Kendati demikian masih ada satu pantangan, yakni mayat yang berjalan tidak boleh disentuh. “Kalau disentuh hopnotisnya akan hilang,” terang Tampubolon yang sudah sejak kecil melihat ayahnya menghipnotis mayat berjalan.
Pada keturunan selanjutnya, orang-orang Toraja sering menguburkan mayatnya dengan cara mayat tersebut berjalan sendiri ke liang kuburnya. Begitu pula saat mereka ingin pulang atau dikangeni keluarganya. Di rumah, memang telah disediakan satu tempat khusus untuk mayat-mayat tersebut. Bila mereka (mayat) pulang, mereka bisa menghuni rumah itu. Setiba di rumah mereka akan tidur lagi. Tapi jika mau kembali ke rumah sebelumnya, yakni patane, mereka akan berjalan lagi.
Fenomena mayat berjalan juga dituturkan, Ardiansyah (28), warga asli Tanah Toraja. Dia mengaku pernah pernah menyaksikan sendiri dengan mata telanjang, ada mayat berjalan sendiri.
“Kejadiannya sekitar tahun 1992. Waktu itu saya baru kelas 3 SD. Pada saat itu di desa saya ada seorang bernama Pongbarrak yang ibunya meninggal. Seperti adat orang Toraja, sang mayat tidak langsung dikuburkan tetapi masih harus melalui prosesi adat rambu solo atau penguburan,” jelas Ardiansyah.
Setelah mayat dimandikan, lanjut Ardiansyah, mayat itu kemudian diletakkan di tempat tidur dalam sebuah kamar khusus sebelum dimasukkan ke peti jenasah. Pada malam ketiga, seluruh keluarga berkumpul untuk membicarakan bagaimana prosesi pemakaman yang akan dilaksanakan nanti.
“Saat itu saya duduk di teras rumah, tiba-tiba ada kegaduhan dalam rumah. Semua ibu-ibu berteriak. Karena penasaran, saya berusaha melongok ke dalam rumah. Dan astaga, mayat ibu Pngbarrak berjalan keluar dari kamar,” kenang Ardiansyah.
Ardiansyah menceritakan, saat itu dia dan temannya kontan berteriak histeris. Saking takutnya mereka langsung berlari menuruni tangga.
“Saya berlari dan mendapatkan ayah saya sambil berteriak histeris. Setelah itu saya langsung dibawa pulang ke rumah dan saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya,” cerita Ardiansyah yang mengaku baru pertama kali melihat mayat berjalan.
Keesokan harinya, kejadian tersebut membuat seluruh warga heboh. Dan informasi yang diperoleh Ardiansyah, Pongbarrak sengaja melakukan ritual tersebut karena dia ingin menghormati ibunya. Cuma pada malam itu, dia tidak ingin memindahkan ibuny. Pongbarrak cuma berusaha mempraktekkan ilmunya. Sebab konon, jika sang ibu sudah berada di kuburan batu, sewaktu-waktu dia akan menarik ibunya kembali untuk diajak pulang. Tentunya dengan cara berjalan sendiri.
Pada zaman sekarang, diakui Ardiansyah, memang hal itu nyaris tidak pernah terjadi, kecuali orang-orang Toraja yang berada di pedalaman. “Generasi muda seperti saya, malah tidak tahu soal itu. Yang kami tahu, kalau orang mati itu akan diletakkan di kuburan batu. Mereka bisa awet hingga bertahun-tahun,” jelas Ardiansyah yang mengaku pernah memakamkan keluarganya di kuburan batu.
Cuma, yang dibingungi Ardiansyah, adalah mayat berjalan. Menurutnya tradisi itu bukan sembarangan dilakukan oleh orang Tanah Toraja. Mereka yang bisa melakukan itu sebelumnya memiliki ilmu tertentu yang diturunkan dari guru-gurunya atau sesepuh adat.
“Itu ilmu kuno. Di jaman sekarang tak banyak orang bisa melakukan itu,” kata Ardiansyah.
Ardiansyah menambahkan, dia dulunya juga pernah diajari kakeknya. Tapi karena membangkitkan mayat dirasa ngeri, maka dia urung mempelajari ilmu tersebut.
Biasanya, orang yang memiliki ilmu membangkitkan orang mati, mereka awalnya mempraktekkan pada binatang seperti ayam atau kerbau yang diadu dalam keadaan leher terputus.
“Binatang seperti kerbau yang sudah dipotong kepalanya dan dikuliti habis pun, jika diberi mantera-mantera atau ilmu gaib Tanah Toraja, mereka masih bisa dibuat berdiri dan berlari kencang, mengamuk ke sana sini,” kutip Ardiansyah yang mengaku bangga dengan adat leluhurnya.
Meski begitu, tradisi Tanah Toraja menjalankan mayat dari rante (tempat persemayaman) ke patane, diakui Ardiansyah, hanya bisa dilakukan oleh masyarakat Toraja. Mayat-mayat tersebut dapat berjalan karena doa-doa yang dipanjatkan ke leluhur dan arwah almarhum.
Sayang, ritual ini perlahan mulai ditinggalkan. Sebab masyarakat Toraja telah banyak yang memeluk agama samawi. “Ritual Ma’nene sebenarnya tidak hilang, cuma jarang dipakai saja. Tapi bila mau masuk ke pelosok desa, ritual mayat berjalan masih tetap dijalankan. Sebab warga Toraja masih percaya dengan hal-hal mistik. Dan karena mereka ingin menjaga kekhasan budaya leluhur agar tidak hilang.

Senin, 29 Juli 2013

GEOPARK JAMBI

Jambi memiliki Kekayaan geologis Geopark Merangin lebih tinggi dibandingkan geopark lainnya, seperti di China dan Amerika Serikat. Karena masuk di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang relatif masih terjaga. Koordinator Divisi Geologi Tim Peneliti Geopark Merangin, Fauzi Hasibuan, dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, bahwa geopark yang diperkirakan berumur 300 juta tahun itu akan jadi ladang riset utama para geolog dunia dalam mempelajari evolusi Bumi.
Menurut Fauzi, cukup banyak peninggalan fosil kayu dan tumbuhan serta kerang-kerangan di Merangin tercetak membatu di batu endapan lava dan abu vulkanik gunung purba. Ia yakin, fosil-fosil di Merangin tersebar di sepanjang Sungai Batang Merangin dan Mengkarang, pun banyak terdapat di dalam tanah. "Peneliti berikut bisa saja melakukan penggalian kalau memang membutuhkan informasi dan materi riset yang lebih lengkap. Di Geopark Merangin ini diyakini masih banyak fosil obyek geologi lain yang terpendam di dalam tanah," ungkapnya.
Keberadaan Geopark Merangin menjadi geopark paling berpotensi mendapat pengakuan UNESCO. Dan kini semakin mendapat respon dari dunia internasional. Penelitian berkelanjutan dan proses percepatan pengembangan kawasan tersebut kini terus dilakukan. Terutama oleh tim yang telah dibentuk pemerintah daerah yakni tim percepatan pengembangan. Serta tim yang dibentuk Badan Geologi Kementerian ESDM yakni tim riset atau peneliti telah bekerja semenjak 2011 hingga kini.
Fauzi mengutarakan, "Lewat penelitian dan promosi Badan Geologi Kementerian ESDM, serta Pemerintah Provinsi Jambi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Pemerintah Kabupaten Merangin, keberadaan Geopark Merangin dapat segera diakui UNESCO pada 2015." Dengan demikian, Geopark Merangin akan masuk dalam jaringan geopark dunia (global geopark network).
http://nationalgeographic.co.id

ILMUWAN JENIUS

Pada 22 oktober lalu, lonceng ber­denting di kantor utama laboratorium Yuri Oganessian di Dubna, sebelah utara Moskwa. Dua belas fisikawan nuklir duduk di belakang meja yang berisi tumpukan kertas tinggi. Di seberang lorong, sebuah siklotron sedang menembakkan atom-atom kalsium ke selembar logam tipis dengan kecepatan 108 juta kilometer per jam.

Denting lonceng kecil itu menandakan bahwa sebuah atom baru telah lahir. Pada saat itu, atom itu adalah satu-satunya atom unsur 117 yang ada di Bumi, dan yang ke-19 yang pernah ada. Semua atom unsur 117 yang lain juga dibuat di laboratorium ini, dan semuanya lenyap dengan cepat. Setelah sepersekian detik, yang ini juga musnah.

Dubna, yang terletak di Sungai Volga, adalah kota ilmu pengetahuan baru setelah Perang Dunia II. Georgy Flerov, yang turut meluncurkan penelitian senjata nuklir Uni Soviet, mendirikan laboratorium yang ke­mudian diambil alih Oganessian. Pada awal perang itu, Flerov memperhatikan bahwa aliran artikel tentang unsur radioaktif dari ilmuwan Amerika dan Jerman tiba-tiba berhenti.

Dia menduga bahwa mereka sedang membangun bom atom, dan dia menyurati pemimpin Soviet Joseph Stalin pada April 1942. Stalin memerintahkan para fisikawan Rusia untuk membangun bom juga. Flerov sendiri dihadiahi sebuah labo­ratorium di Dubna. Di sana dia mencurahkan perhatiannya untuk berburu unsur baru.

Segala sesuatu tersusun atas unsur—berbagai jenis atom. Sebagian besar atom sudah berusia miliaran tahun, disebarkan oleh ledakan besar atau bintang yang meledak, lalu bergabung ke dalam Bumi yang baru lahir, kemudian didaur ulang terus-menerus dari batu ke bakteri, presiden, atau tupai.

Pada akhir 1880-an, seorang Rusia lain, Dmitry Mendeleyev, mencoba menata semuanya, mengelompokkannya menurut massa dan sifat lainnya dalam tabel periodik. Di kemudian hari, para ilmuwan menemukan kaitan antara susunan Mendeleyev dan struktur atom. Setiap unsur memiliki nomor: jumlah proton dalam inti atom atau nukleusnya.

Pada 1940, para peneliti telah menemukan semua unsur yang stabil dan telah lama ada di Bumi ini, hingga uranium, unsur 92. Tetapi, setelah uranium, terdapat segudang kemungkinan—unsur-unsur yang terlalu radioaktif dan tidak stabil sehingga tak mampu bertahan miliaran tahun. Untuk menjelajahi dunia itu, unsur-unsurnya harus dibuat dulu.

Langkah pertama pembuatan tersebut tak hanya mengubah tabel periodik. Pada 1941, setelah Glenn Seaborg dan rekan-rekannya di University of California, Berkeley, membuat unsur 94, plutonium, Seaborg langsung direkrut dalam Manhattan Project. Setelah membantu me­rekayasa atom plutonium yang dijatuhkan di Nagasaki, Jepang, Seaborg kembali ke Berkeley.

Dia terus membuat unsur-unsur baru, meskipun penerapannya tidak sedahsyat plutonium—misalnya untuk detektor asap—atau tak ada penerapan sama sekali. Pada 1955, timnya sudah menemukan hingga unsur 101. Dia menamainya mendelevium.

Sabtu, 27 Juli 2013

OPERASI CAESAR

ibu hamil
Ilustrasi ibu hamil I foto raut.ru
Bukan rahasia lagi bahwa kelahiran alami tidak berbahaya dan baik buat ibu dan bayi. Tidak seperti operasi caesar yang dijalani bukan karena alasan medis.
Dikutip dari dari raut.ru. Sekarang, peneliti dari University College Cork menemukan efek buruk lain dari konsekuensi  prosedur operasi caesar. Ternyata ibu yang melahirkan melalui operasi caesar, maka lebih mungkin untuk menghadapi resiko ibu kehilangan nyawa dan bayi pada kehamilan berikutnya.
Mereka yang telah menjalani prosedur operasi caesar memiliki kesempatan 12 persen lebih besar dari masalah di masa depan, menurut para peneliti yang melakukan studi pertama berskala besar dari jenisnya.
Para ilmuwan mengatakan bahwa operasi (yang sering digunakan dalam kasus komplikasi mendadak selama kehamilan) dapat merusak suplai darah ke rahim dan ibu di masa depan. Penelitian ini berusaha untuk memeriksa efek dari operasi pada kesuburan, setelah penelitian lain telah menghasilkan hasil yang bertentangan.
Data yang dikumpulkan dari lebih dari 800.000 ibu, mengungkapkan bahwa mereka yang melahirkan melalui operasi caesar, memiliki risiko tertinggi lahir mati di masa depan. Mereka yang terpaksa operasi caesar bukan untuk alasan medis, kemudian akan memiliki masalah dengan kemampuan untuk hamil. Selain itu, meskipun operasi dapat menyelamatkan jiwa dalam beberapa kasus, bayi yang lahir melalui operasi caesar lebih dari dua kali lebih mungkin untuk meninggal dalam bulan pertama.
Mengutip dari aceh.tribunnews.com. Secara medis,  kata dosen FK Unsyiah banyak kerugian bila seorang  pasien melahirkan dengan bedah caesar. Di samping efek samping dari obat bius, juga banyak risiko medis lainnya yang mengancam jiwa seorang pasien, baik saat menjalani operasi maupun pascaoperasi. Melahirkan normal  agak berat saat melahirkan, namun setelah melahirkan, pemulihan lebih cepat dan tidak ada efek samping. Melahirkan dengan caesar, berisiko tinggi dan masa pemulihan lebih lama. 
Sebuah penelitian di AS juga menunjukkan bahwa anak-anak yang dilahirkan secara normal memiliki IQ lebih tinggi beberapa poin dibandingkan dengan  mereka yang dilahirkan secara bedah caesar.

GELOMBANG SINYAL

sinyal wifi
Gelombang Sinyal Wifi I foto dailymail.co.uk
Gelombang sinyal Wi-Fi menggunakan pita frekuensi radio dari spektrum elektromagnetik antara gelombang radio dan gelombang mikro. Pita frekuensi ini berarti bahwa router mengirim dan menerima data sebagai gelombang elektromagnetik, digambarkan di sekitar Fountain Refleksi di The National Mall, terpisah antara tiga dan lima inci.

sinyal wifi
Gelombang Bulat Sinyal Wifi

Pulsa atau gelombang sinyal Wi-Fi yang ditampilkan di sini sebagai bulatan dan berbentuk elips dan serta dapat memperpanjang hingga 30 meter, dan data dikirim melalui saluran.  Lamm menggunakan, warna oranye,  kuning dan merah serta lainnya untuk mewakili saluran ini tak terlihat yang membentuk keseluruhan Sinyal Wi-Fi. Tampak hebat, ilustrasi dirancang untuk mengajarkan orang tentang bagaimana sinya Wi-Fi bekerja.Lamm, dari website MyDeals.com, berkata: "Meskipun kita sering menggunakannya, kita jarang berpikir tentang cara kerjanya.Setiap gelombang memiliki kecepatan tinggi, jarak tertentu dari gelombang lainnya, dan mereka dengan rute masing-masing pada kecepatan tertentu.Itulah gambaran sinyal Wifi seandainya mereka dapat terlihat. Lamm mengerjakan proyek sinyal Wifi dengan bantuan dari NASA astrobiologis.

KAPAN TUBUH MEMPRODUKSI HORMON MELATONIN

sketsa cewek cantik tidur

Tidur malam dalam kamar yang gelap benar-benar bermanfaat buat tubuh. Itu merupakan saran dari para Ahli. Menurut ahli biologi Joan Robert, mengatakan tubuh tidak akan memproduksi hormon melatonin ketika ada cahaya. Hormon melatonin merupakan hormon yang mampu menjaga kekebalan tubuh terhadap berbagai macam penyakit A-Z. :D
Hormon melatonin tidak akan berproduksi bila tidur menggunakan lampu di malam hari. Alangkah bijaknya untuk membantu metabolisme hormon melatonin tidurlah dalam kegelapan alias matikan lampu sebelum tidur malam.
Tidur tanpa lampu penerangan secara signifikan membantu aktivitas tidur makin cepat untuk terlelap. Dengan mematikan lampu ketika tidur malam hari, bukan hanya menghemat energi tapi juga meningkatkan kesehatan tubuh.
Rincian singkat manfaat tidur malam tanpa lampu penerangan (Tidur dalam Suasana Gelap) :
  1. Tidur makin cepat terlelap
  2. Produksi hormon melatonin makin lebih baik untuk mengusir penyakit
  3. Hemat energi.
Rincian umum dari manfaat keseluruhan waktu tidur :
  1. Menstabilkan emosi
  2. Tubuh menjadi lebih berenergi (aktivitas pun makin lancar, ga gampang loyo)
  3. Mengurangi lemak (bagi para cewek bisa bikin langsing atau ramping)
  4. Kinerja otak makin meningkat (ga gampang pikun)
  5. Meredakan stres
  6. Mengurangi obesitas
  7. Mengurangi depresi
  8. Melawan pertumbuhan berbagai macam penyakit A-Z
  9. Selamat dalam perjalanan (fakta kurang tidur pemicu terbesar kecelakaan di jalan raya)

PEMAIN BOLA AFRIKA YANG MENINGGAL DI INDONESIA



Dunia sepakbola tanah air dikejutkan dengan kabar meninggalnya Camara Sekou. Penyerang Pelita Bandung Raya (PBR) itu meninggal karena serangan jantung, Sabtu 27 Juli 2013 pukul 23.48 WIB. CEO PBR, Marco Garcia Paolo, mengatakan serangan itu dialami Camara saat dia tengah menjalani latihan rutin bersama skuad PBR pada Sabtu malam, 28 Juli. Pemain yang sempat sekali memperkuat timnas Mali ini roboh ke tanah setelah sebelumnya kelihatan menahan rasa sakit. "Sekitar pukul 22.30 dia terjatuh. Awalnya kelihatan kesakitan. Kami sempat memberikan bantuan selama dua menit, namun kondisi sudah parah. Kami lalu melarikannya ke rumah sakit terdekat,". "Setibanya di sana tim dokter yang menangani melihat kondisi Camara sangat buruk, tapi kami semua tetap mengusahakan yang terbaik. Pada pukul 23.48 WIB dokter menyatakan dia sudah tidak ada," sambungnya.

Religius
Camara memulai karier profesionalnya bersama klub Mali, Centre Salif Keita, pada 2008. Pria kelahiran 17 November 1985 ini lalu melanjutkan petualangan ke Afrika Selatan. Di Afsel, dia sempat memperkuat dua klub yaitu Jomo Cosmos dan Engen Santos. Camara lalu melanjutkan kariernya di Indonesia pada 2011. Pemain 27 tahun ini membela PSAP Sigli yang masih berlaga di Liga Super Indonesia (ISL). Di musim perdananya di Indonesia, Camara sukses membukukan 12 gol dari 30 laga. Musim selanjutnya, Camara memperkuat Persiwa Wamena. Dia diplot menggantikan Boakay Eddie Foday yang hengkang ke Sriwijaya FC. Setengah musim membela Badai Pegunungan, Camara tampil produktif dengan torehan 10 gol dari 15 penampilan. Hanya setengah musim Camara membela Persiwa, di pertengahan musim dia memutuskan hengkang ke Pelita Bandung Raya, untuk menjadi tandem Gaston Castano. Dia baru mencetak satu gol dari enam pertandingan bersama The Boys Are Back. Camara terlahir dan besar di lingkungan keluarga muslim yang taat. Oleh karena itu, dia sangat patuh terhadap kewajiban sebagai seorang muslim, salah satunya berpuasa di bulan Ramadan tahun ini. “Saya terlahir dari keluarga muslim yang cukup taat. Sejak kecil saya sudah tahu kewajiban-kewajiban yang harus saya jalankan sebagai seorang muslim. Termasuk dalam menjalankan ibadah puasa. Karena itu hukumnya wajib